Harta Karun VOC (Indonesia)
Membaca buku ini - meminjam terma Da Vinci Code - cukup mengguncang nalar :). Seperti Da Vinci Code, buku karangan ES Ito ini berisi kisah pencarian dan perburuan sesuatu yang selama ini hanya menjadi mitos dan legenda.
Kisah diawali dengan kematian tokoh-tokoh terkemuka yang sepertinya tidak saling berkaitan. Kesamaannya adalah mereka dibunuh di tempat-tempat yang berawalan huruf B. Boven Digul, Brussel, Banda, dan beberapa tempat berawalan huruf B lainnya yang menjadi unsur kejutan cerita. Dan dari hasil penyelidikan yang oleh penulis diuraikan sedikit demi sedikit tanpa terburu-buru, terungkaplah bahwa kematian mereka berkaitan dengan Bung Hatta dan Gandhi. Dalam novel ini, Hatta diceritakan sebagai figur yang punya kaitan erat dengan rahasia harta karun VOC.
Cerita pun mengalir ke penelusuran jejak harta karun VOC berupa ribuan emas batangan yang selama ini diyakini tersimpan di bumi Indonesia. Jejak harta karun ini diburu oleh berbagai pihak dengan motif pribadi mereka masing-masing. Ada peneliti, sejarawan, ilmuwan, pemberontak, militer, dan wartawan. Lalu satu demi satu, Ito mengupas tokoh-tokoh yang terlibat dalam perburuan tersebut dan membuka kedok asli mereka yang beberapa di antaranya cukup membuat 'surprise'.
Jujur, gw bukan penggemar sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Mungkin bawaan dari jaman sekolah dulu, saat sejarah adalah pelajaran membosankan penuh dengan hapalan. Tapi angkat jempol buat Ito, karena berhasil mengolah fakta-fakta sejarah menjadi rangkaian kisah dengan bumbu fiksi yang mengejutkan. Risetnya oke banget!
Menurut gw, pada intinya novel ini menyuarakan gerundelan banyak orang tentang ketertinggalan, kemalasan, dan kebodohan orang Indonesia. Tentang keminderan kita pada bangsa kulit putih. Tentang penjajahan yang dilakukan oleh sesama orang Indonesia yang jauh lebih kejam dari penjajahan Kompeni. Tentang keyakinan adanya konspirasi jahat yang ingin menghancurkan negara Indonesia. Dan tentang orang-orang tua korup yang masih mengangkangi negara ini. Bedanya dengan gerundelan, novel ini dibalut uraian sejarah Indonesia, dialog-dialog cerdas tentang makna kemerdekaan dan konsep negara, dan tema unik yang jarang dilirik penulis muda lainnya. (Di bab Tentang Penulis, fakta tentang ES Ito hanya bahwa dia lahir tahun 1981. Tapi menurut adek gw, ES Ito itu anak FEUI angkatan '99 yang nggak sampai lulus lalu memilih jadi penulis, dan suka banget tema-tema konspirasi. Hmm, gw harus cari novel pertama dia nih).
Nggak heran kalau novel ini diakhiri dengan hancurnya aktor utama (tokoh penting dan terhormat) di belakang layar yang selama ini menebar teror di Indonesia lewat tangan-tangan orang lain. Juga munculnya sosok anak muda idealis yang berjuang tanpa pamrih untuk negaranya. Ahh, senangnya kalau dalam kehidupan nyata, aktor utama kerusuhan 1998, kerusuhan Ambon, pembunuhan Munir, dsb dst juga bisa tertangkap basah seperti itu...
Selain fakta sejarah, novel ini juga bertabur kisah dan satir khas Indonesia yang sudah jadi rahasia umum tapi tetap asyik dibaca dan ditertawakan. Misalnya :
- Romantisme pelajar SMA Taruna Nusantara yang dulu ngetop banget itu.
- "Mereka harus punya seragam TNI dulu sebelum bekerja untuk Freeport" (hal.356)
- Klan dan silsilah keluarga adalah pertimbangan utama berkarier di Departemen Luar Negeri (hal. 523)
- Dangdut dan Dji Sam Soe telah menyatukan masyarakat kelas empat Indonesia, jauh lebih sakti dibandingkan Pancasila (hal. 608).
Novel ini juga membawa pembacanya ke pedalaman Papua, suku terasing SIberut di Mentawai, keindahan alam Maluku, dan kekumuhan kota tua Jakarta dengan sangat fasih. Gw merasa benar-benar membaca novel tentang Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia. Menyenangkan! Sayangnya, novel ini nggak menyediakan gambar yang memudahkan pembaca memahami cerita. Misalnya gambar terowongan bawah tanah di kota tua. Gw yang gak akrab dengan daerah itu kebingungan menerka-nerka arah dan tempat yang dimaksud. Terus waktu mengungkap rahasia Monas, seharusnya ada juga tuh gambar yang dimaksud. Kan nggak semua orang ngeh bentuk tepatnya Monas kayak apa.
Secara keseluruhan, gw suka banget novel yang menyegarkan ini. Harusnya sih bisa menjadi inspirasi untuk anak-anak muda yang mulai kehilangan ke-Indonesiaan-nya. Tapi terus terang gw nggak yakin novel ini bisa bersaing dengan novel-novel remaja lainnya yang terlihat begitu ceria, warna-warni, dengan judul eye-catching (kadang gak jelas maksudnya apa), dan bahasa campur aduk Inggris-Indonesia. Bahasa gaul getu loooh. Mungkin melihat judulnya yang VOC aja udah pada males kali, karena di sekolah udah dibombardir dengan pelajaran sejarah yang menjemukan. Mudah-mudahan perkiraan gw salah besar. Makanya, promosiin dong bukunya....:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar